Penulis: Putri Rachmadayanti
Seiring kemajuan zaman dengan perkembangan ilmu dan teknologi yang pesat, mendorong manusia untuk selalu berkembang pada berbagai sector atau bidang, tidak terkecuali sektor pendidikan. Siswa dari TK sampai dengan perguruan tinggi semakin akrab dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi utnuk menunjang proses belajar. Siswa dengan mudah menemukan informasiinformasi melalui internet, baik informasi dalam maupun luar negeri. Kecepatan informasi dan konten informasi yang didapatkan siswa tentu akan berpengaruh pada kehidupan sehari- hari siswa. Salah satu contoh, tidak sedikit siswa Sekolah Dasar yang sudah hafal dengan nama boyband atau girlband Korea yang disukainya, bahkan bisa menyanyi dan menari menirukan gaya idolanya tersebut. Selain itu, cara berpakaian yang cenderung terbuka, meniru gaya kebarat- baratan juga marak diikuti oleh anak- anak dan remaja karena menganggap gaya tersebut lebih modern.
Di satu sisi, dampak adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut memunculkan sikapsikap yang kurang sesuai dalam kehidupan bermasyarakat. Misal, siswa yang terlalu sering bermain gadget dikhawatiran akan memiliki sikap individualisme yang tinggi, dan kurang bersosisialisasi dengan teman dan lingkungan. Siswa akan melupakan permainan- permaianan tradisional khas bangsa Indonesia dan cenderung memilih gadget dengan berbagai kecanggihan yang ditawarkan. Saptadi dalam Mubah (2011) tentang problematika budaya lokal di era globalisasi mengemukakan bahwa Sekarang, dunia mengalami Revolusi 4T (Technology, Telecomunication, Transportation, Tourism) yang memiliki globalizing force dominan sehingga batas antarwilayah semakin kabur dan berujung pada terciptanya global village seperti yang pernah diprediksikan McLuhan.
Dalam hal ini, pendidikan sebagai salah satu bidang kehidupan manusia, memiliki peran penting dalam menciptakan generasi manusia yang cerdas, bijaksana, dan berkarakter. Hal ini sejalan dengan pengertian pendidikan sesuai Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 1, yaitu penddikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan karakter sejalan dengan pemikirian untuk menciptakan pendidikan akhlak. Apabila masuknya budaya asing tanpa filter dilakukan secara terus menerus, tidak menutup kemungkinan budaya bangsa Indoensia akan punah. Towaf (2014) menambahkan bahwa Guncangan globalisasi telah menimbulkan berbagai macam krisis yang merusak citra dan rasa percaya diri bangsa.
Dari segi sosial, jika siswa sejak dini sudah terbiasa tidak peduli dengan lingkungan sekitar, dikhawatirkan akan berimbas pada kehidupannya hingga dewasa. Padahal manusia adalah makhluk sosial, yang hidup berdampingan baik dengan sesama manusia, dengan alam sekitar dan berinteraksi dengan hewan- hewan di sekitar. Kegiatan konservatif terhadap kekayaan alam dan budaya setempat atau yang lazim disebut kearifan lokal perlu ditanamkan kepada anak sejak usia Sekolah Dasar. Guru dapat memberikan penguatan pendididkan karakter melalui materi yang bersumber dari aktivitas masyarakat, produk budaya, dan potensi- potensi lain di lingkungan sekitar siswa. Berikut ini akan dibahas tentang penguatan pendidikan karakter bagi siswa Sekolah dasar melalui Kearifan Lokal
Dikutip dari: (JPSD) Jurnal Pendidikan Sekolah dasar, Vol 3, No 2, 2017
https://jurnal.untirta.ac.id/index.php/jpsd/article/view/2140







0 comments:
Post a Comment