Tuesday, October 24, 2023

Implementasi Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar Melalui Penguatan Pelaksanaan Kurikulum


Penulis: Sri Judiani

Siapa yang tidak mengelus dada melihat pelajar yang tidak punya sopan santun, suka tawuran, minum minuman keras, mabok-mabokan, senang narkotika, dan hobi begadang serta kebut-kebutan mengendarai motor di jalan raya? Ini jenis kenakalan pelajar yang paling umum, sedangkan kenakalan lainnya seperti mencontek, menjiplak karya orang lain, melakukan sabotase, vandalisme halaman buku perpustakaan, membolos sekolah, mencuri, berjudi, dan banyak lagi. Namun, pelajar yang patut dibanggakan juga ada, seperti mereka yang menjuarai olimpiade sains, baik di tingkat nasional maupun internasional. Bahkan, pelajar Indonesia menjadi juara umum dalam International Conference of Young Scientists (ICYS) atau Konferensi Internasional Ilmuwan Muda se-Dunia yang diikuti ratusan pelajar SMA dari 19 negara di Bali pada 12 – 17 April 2010. 

Mencontek telah menjadi budaya lembaga pendidikan kita. Hal ini bukan hanya berkaitan dengan kelemahan individu per individu, melainkan telah membentuk sebuah kultur sekolah yang tidak menghargai kejujuran. Masifnya perilaku ketidakjujuran ini telah merambah dalam diri siswa, pendidik, dan anggota komunitas sekolah. Pembangunan karakter dan pendidikan karakter men jadi sua tu keharusan karena pendidikan tidak hanya menjadikan peserta didik menjadi cerdas, juga mempunyai budi pekerti dan sopan santun, sehingga keberadaannya sebagai anggota masyarakat menjadi bermakna baik bagi dirinya maupun orang lain. Pembinaan karakter yang termudah dilakukan adalah ketika anak-anak masih duduk di bangku SD. Itulah sebabnya pemerintah memprioritaskan pendidikan karakter di SD. Bukan berarti pada jenjang pendidikan lainnya tidak mendapat perhatian namun porsinya saja yang berbeda (Mendiknas, 2010). 

Pendidikan karakter yang diterapkan di sekolah-sekolah tidak diajarkan dalam mata pelajaran khusus. Namun, dilaksanakan melalui keseharian pembelajaran yang sudah berjalan di sekolah. Wakil Mendiknas, Fasli Jalal, mengatakan pendidikan karakter yang didorong pemerintah untuk dilaksanakan di sekolah-sekolah tidak akan membebani guru dan siswa. Sebab, nilai-nilai yang terkandung dalam pendidikan karakter sebenarnya sudah ada dalam kurikulum, namun selama ini tidak dikedepankan dan diajarkan secara tersurat. Kita mintakan pada guru supaya nilainilai yang terkandung dalam mata pelajaran maupun dalam kegiatan ekstra kurikuler disampaikan dengan jelas pada siswa. Pendidikan karakter bisa terintegrasi juga menjadi budaya sekolah. Jadi, pendidikan karakter yang hendak diterapkan secara nasional tidak membebani kurikulum yang ada saat ini. Pendidikan karakter yang dikembangkan adalah yang dapat membangun wawasan kebangsaan serta mendorong inovasi dan kreasi siswa. Selain itu, nilai-nilai yang perlu dibangun dalam diri generasi penerus bangsa secara nasional yakni kejujuran, kerja keras, menghargai perbedaan, kerjasama, toleransi, dan disiplin. Sekolah bebas untuk memilih dan menerapkan nilai-nilai yang hendak dibangun dalam diri siswa. Bahkan pemerintah mendorong munculnya keragaman untuk pelaksanaan pendidikan karakter.

Program-program di sekolah seperti pramuka, kantin ke ju juran, sekolah hi jau, olimpiade sains dan seni, serta kesenian tradisional, misalnya, telah sarat dengan pendidikan karakter. Tinggal guru yang mesti memunculkan nilai-nilai dalam program itu sebagai bagian dari pendidikan karakter di sekolah (Fasli Jalal, 2010a). Untuk menerapkan pendidikan karakter, seluruh warga sekolah harus memiliki kesepakatan tentang nilai-nilai karakter yang akan dikembangkan di sekolahnya (Anita Lie, 2010b). Selanjutnya, Anita Lie juga menyatakan bahwa pendidikan karakter tidak merupakan mata pelajaran yang berdiri sendiri, tetapi harus diintegrasikan dalam kurikulum, artinya menjadi penguat kurikulum yang sudah ada, yaitu dengan mengimplementasikannya dalam mata pelajaran dan keseharian anak didik. 

Mata pelajaran biologi misalnya, siswa diajak langsung menanam tumbuh-tumbuhan, diberi pemahaman tentang manfaatnya, dikaitkan dengan kerusakan lingkungan, dan sebagainya. Pada mata pelajaran kesenian, siswa diajak mengenal dan mempraktekkan beragam peninggalan seni budaya yang menjadi muatan lokal, falsafah budaya, dan manfaatnya. Masalahnya. Mayoritas guru belum punya kemauan untuk melakukan itu. Kesadaran sudah ada, hanya saja belum diujudkan menjadi sebuah aksi nyata. Hal ini disebabkan pendidikan di Indonesia masih terfokus pada aspek-aspek kognitif atau akademik, sedangkan aspek soft skills atau non-akademik yang merupakan unsur utama pendidikan karakter selama ini masih kurang mendapatkan perhatian.

Dikutip dari: Jurnal Pendidiakn Dan Kebudayaan, Vol 16, No 9, 2010

http://jurnaldikbud.kemdikbud.go.id/index.php/jpnk/article/view/519

0 comments:

Post a Comment