sdn 012 muhammad firdaus

Lembaga yang memiliki gedung modern dan nyaman untuk belajar

Ruang kelas

Memiliki ruang kelas yang nyaman untuk digunakan dalam proses pembelajaran

Perpustakaan

Memiliki perpustakaan terbaik di provinsi kalimantan timur

Laboratorium komputer

Memiliki laboratorium yang nyaman dan modern

Penghargaan atau prestasi siswa siswi sdn 012 muhammad firdaus

Mendapatkan lebih dari 300 prestasi nasional maupun internasional

Tuesday, October 24, 2023

Penguatan Pendidikan Karakter bagi Siswa Sekolah dasar melalui Kearifan Lokal

Penulis: Putri Rachmadayanti

Seiring kemajuan zaman dengan perkembangan ilmu dan teknologi yang pesat, mendorong manusia untuk selalu berkembang pada berbagai sector atau bidang, tidak terkecuali sektor pendidikan. Siswa dari TK sampai dengan perguruan tinggi semakin akrab dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi utnuk menunjang proses belajar. Siswa dengan mudah menemukan informasiinformasi melalui internet, baik informasi dalam maupun luar negeri. Kecepatan informasi dan konten informasi yang didapatkan siswa tentu akan berpengaruh pada kehidupan sehari- hari siswa. Salah satu contoh, tidak sedikit siswa Sekolah Dasar yang sudah hafal dengan nama boyband atau girlband Korea yang disukainya, bahkan bisa menyanyi dan menari menirukan gaya idolanya tersebut. Selain itu, cara berpakaian yang cenderung terbuka, meniru gaya kebarat- baratan juga marak diikuti oleh anak- anak dan remaja karena menganggap gaya tersebut lebih modern. 

Di satu sisi, dampak adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut memunculkan sikapsikap yang kurang sesuai dalam kehidupan bermasyarakat. Misal, siswa yang terlalu sering bermain gadget dikhawatiran akan memiliki sikap individualisme yang tinggi, dan kurang bersosisialisasi dengan teman dan lingkungan. Siswa akan melupakan permainan- permaianan tradisional khas bangsa Indonesia dan cenderung memilih gadget dengan berbagai kecanggihan yang ditawarkan. Saptadi dalam Mubah (2011) tentang problematika budaya lokal di era globalisasi mengemukakan bahwa Sekarang, dunia mengalami Revolusi 4T (Technology, Telecomunication, Transportation, Tourism) yang memiliki globalizing force dominan sehingga batas antarwilayah semakin kabur dan berujung pada terciptanya global village seperti yang pernah diprediksikan McLuhan. 

Dalam hal ini, pendidikan sebagai salah satu bidang kehidupan manusia, memiliki peran penting dalam  menciptakan generasi manusia yang cerdas, bijaksana, dan berkarakter. Hal ini sejalan dengan pengertian pendidikan sesuai Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 1, yaitu penddikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan karakter sejalan dengan pemikirian untuk menciptakan pendidikan akhlak. Apabila masuknya budaya asing tanpa filter dilakukan secara terus menerus, tidak menutup kemungkinan budaya bangsa Indoensia akan punah. Towaf (2014) menambahkan bahwa Guncangan globalisasi telah menimbulkan berbagai macam krisis yang merusak citra dan rasa percaya diri bangsa. 

Dari segi sosial, jika siswa sejak dini sudah terbiasa tidak peduli dengan lingkungan sekitar, dikhawatirkan akan berimbas pada kehidupannya hingga dewasa. Padahal manusia adalah makhluk sosial, yang hidup berdampingan baik dengan sesama manusia, dengan alam sekitar dan berinteraksi dengan hewan- hewan di sekitar. Kegiatan konservatif terhadap kekayaan alam dan budaya setempat atau yang lazim disebut kearifan lokal perlu ditanamkan kepada anak sejak usia Sekolah Dasar. Guru dapat memberikan penguatan pendididkan karakter melalui materi yang bersumber dari aktivitas masyarakat, produk budaya, dan potensi- potensi lain di lingkungan sekitar siswa. Berikut ini akan dibahas tentang penguatan pendidikan karakter bagi siswa Sekolah dasar melalui Kearifan Lokal

Dikutip dari: (JPSD) Jurnal Pendidikan Sekolah dasar, Vol 3, No 2, 2017

https://jurnal.untirta.ac.id/index.php/jpsd/article/view/2140


Implementasi Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar Melalui Penguatan Pelaksanaan Kurikulum


Penulis: Sri Judiani

Siapa yang tidak mengelus dada melihat pelajar yang tidak punya sopan santun, suka tawuran, minum minuman keras, mabok-mabokan, senang narkotika, dan hobi begadang serta kebut-kebutan mengendarai motor di jalan raya? Ini jenis kenakalan pelajar yang paling umum, sedangkan kenakalan lainnya seperti mencontek, menjiplak karya orang lain, melakukan sabotase, vandalisme halaman buku perpustakaan, membolos sekolah, mencuri, berjudi, dan banyak lagi. Namun, pelajar yang patut dibanggakan juga ada, seperti mereka yang menjuarai olimpiade sains, baik di tingkat nasional maupun internasional. Bahkan, pelajar Indonesia menjadi juara umum dalam International Conference of Young Scientists (ICYS) atau Konferensi Internasional Ilmuwan Muda se-Dunia yang diikuti ratusan pelajar SMA dari 19 negara di Bali pada 12 – 17 April 2010. 

Mencontek telah menjadi budaya lembaga pendidikan kita. Hal ini bukan hanya berkaitan dengan kelemahan individu per individu, melainkan telah membentuk sebuah kultur sekolah yang tidak menghargai kejujuran. Masifnya perilaku ketidakjujuran ini telah merambah dalam diri siswa, pendidik, dan anggota komunitas sekolah. Pembangunan karakter dan pendidikan karakter men jadi sua tu keharusan karena pendidikan tidak hanya menjadikan peserta didik menjadi cerdas, juga mempunyai budi pekerti dan sopan santun, sehingga keberadaannya sebagai anggota masyarakat menjadi bermakna baik bagi dirinya maupun orang lain. Pembinaan karakter yang termudah dilakukan adalah ketika anak-anak masih duduk di bangku SD. Itulah sebabnya pemerintah memprioritaskan pendidikan karakter di SD. Bukan berarti pada jenjang pendidikan lainnya tidak mendapat perhatian namun porsinya saja yang berbeda (Mendiknas, 2010). 

Pendidikan karakter yang diterapkan di sekolah-sekolah tidak diajarkan dalam mata pelajaran khusus. Namun, dilaksanakan melalui keseharian pembelajaran yang sudah berjalan di sekolah. Wakil Mendiknas, Fasli Jalal, mengatakan pendidikan karakter yang didorong pemerintah untuk dilaksanakan di sekolah-sekolah tidak akan membebani guru dan siswa. Sebab, nilai-nilai yang terkandung dalam pendidikan karakter sebenarnya sudah ada dalam kurikulum, namun selama ini tidak dikedepankan dan diajarkan secara tersurat. Kita mintakan pada guru supaya nilainilai yang terkandung dalam mata pelajaran maupun dalam kegiatan ekstra kurikuler disampaikan dengan jelas pada siswa. Pendidikan karakter bisa terintegrasi juga menjadi budaya sekolah. Jadi, pendidikan karakter yang hendak diterapkan secara nasional tidak membebani kurikulum yang ada saat ini. Pendidikan karakter yang dikembangkan adalah yang dapat membangun wawasan kebangsaan serta mendorong inovasi dan kreasi siswa. Selain itu, nilai-nilai yang perlu dibangun dalam diri generasi penerus bangsa secara nasional yakni kejujuran, kerja keras, menghargai perbedaan, kerjasama, toleransi, dan disiplin. Sekolah bebas untuk memilih dan menerapkan nilai-nilai yang hendak dibangun dalam diri siswa. Bahkan pemerintah mendorong munculnya keragaman untuk pelaksanaan pendidikan karakter.

Program-program di sekolah seperti pramuka, kantin ke ju juran, sekolah hi jau, olimpiade sains dan seni, serta kesenian tradisional, misalnya, telah sarat dengan pendidikan karakter. Tinggal guru yang mesti memunculkan nilai-nilai dalam program itu sebagai bagian dari pendidikan karakter di sekolah (Fasli Jalal, 2010a). Untuk menerapkan pendidikan karakter, seluruh warga sekolah harus memiliki kesepakatan tentang nilai-nilai karakter yang akan dikembangkan di sekolahnya (Anita Lie, 2010b). Selanjutnya, Anita Lie juga menyatakan bahwa pendidikan karakter tidak merupakan mata pelajaran yang berdiri sendiri, tetapi harus diintegrasikan dalam kurikulum, artinya menjadi penguat kurikulum yang sudah ada, yaitu dengan mengimplementasikannya dalam mata pelajaran dan keseharian anak didik. 

Mata pelajaran biologi misalnya, siswa diajak langsung menanam tumbuh-tumbuhan, diberi pemahaman tentang manfaatnya, dikaitkan dengan kerusakan lingkungan, dan sebagainya. Pada mata pelajaran kesenian, siswa diajak mengenal dan mempraktekkan beragam peninggalan seni budaya yang menjadi muatan lokal, falsafah budaya, dan manfaatnya. Masalahnya. Mayoritas guru belum punya kemauan untuk melakukan itu. Kesadaran sudah ada, hanya saja belum diujudkan menjadi sebuah aksi nyata. Hal ini disebabkan pendidikan di Indonesia masih terfokus pada aspek-aspek kognitif atau akademik, sedangkan aspek soft skills atau non-akademik yang merupakan unsur utama pendidikan karakter selama ini masih kurang mendapatkan perhatian.

Dikutip dari: Jurnal Pendidiakn Dan Kebudayaan, Vol 16, No 9, 2010

http://jurnaldikbud.kemdikbud.go.id/index.php/jpnk/article/view/519

Tri Pusat Pendidikan Sebagai Sarana Pendidikan Karakter Anak Sekolah Dasar

Penulis: Machful Indra Kurniawan

Globalisasi memberikan dampak positif dan negatif bagi setiap warga negara indonesia. namun, tidak setiap warga negara menyikapi dampak negatif globalisasi dengan baik. Terjadinya penurunan kuwalitas moral bangsa merupakan salah satu dampak negatif dari globalisasi. Adapun penurunan kuwalitas moral bangsa dapat kita lihatbanyaknya bermunculan kasuskasus yang tidak sesuai dengan nilainilai norma yang hidup dalam masyarakat indonesia, seperti: maraknya pencurian, pembunuhan, pemerkosaan dikalangan masyarakat serta kasus-kasus kenakalan remaja seperti tawuran, sex bebas dan penyalahgunaan narkoba terutama yang terjadi dikalangan pelajar. Beberapa kasus diatas menunjukkan bahwa pendidikan kita belum mampu membangun karakter bangsa. Karena, hingga saat ini praktik pendidikan yang terjadi dikelas-kelas tidak lebih dari latihan-latihan skolastik, seperti mengenal, membandingkan, melatih, dan menghafal. 

(Winarno Surachmad, dkk.: 2003: 114). Berdasarkan hal tersebut, maka perlu diupayakan untuk membangun kembali moral bangsa. Pemerintah tampaknya sudah mulai sadar akan pentingnya nilai moral bagi sebuah bangsa, hal tersebut dapat  terlihat dengan digalakannya pembangunan moral bangsa melalui pendidikan karakterdalam sistem pendidikan nasional sejak tahun 2010 hingga saat ini yang diintegrasikan dalam kurikulum 2013. Pendidikan karakter bangsa merupakan pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa pada diri peserta didik sehingga mereka memiliki nilai dan krakter sebagai karakter dirinya, penerapan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya, sebagai anggota masyarakat dan warga negara yang religius, nasionalis,produktif dan kreatif (PUSLITBANG KEMDIKNAS: 2010). 

Dengan digalakanya pendidikan karakter bangsa dalam sistem pendidikan nasional diharapkan dapat mengatasi dampak negatif dari globalisasi dalam hal penyimpangan perilaku terhadap moral bangsa. Tri pusat pendidikan merupakan tiga pusat yang memiliki tanggung jawab atas terselenggaranya pendidikan terhadap anak, tiga pusat tersebut yaitu pendidikandalam keluarga, dalam sekolah dan dalam masyarakat. Dalam pembentukan karakter, tri pusat pendidikan merupakan sarana yang tepat.Karena, dalam pembentukan karakter, perlu adanya kerjasama dari berbagai lingkungan pendidikan, baik pendidikan dalam keluarga, pendidikan dalam sekolah, dan pendidikan dalam masyarakat. Dengan adanya kerjasama antara pendidikan dalam keluarga, pendidikan dalam sekolah dan pendidikan dalam masyarakat akan dapat menanamkan nilai-nilai karakter dengan baik sehingga dapat membentuk karakter anak sekolah dasar yang berkarakter.

Dikutip dari: Jurnal Pendagogia, Vol 4, No 1, Februari 2015

https://pedagogia.umsida.ac.id/index.php/pedagogia/article/view/1342

Implementasi Pancasila dalam Pendidikan Sekolah Dasar



Penulis: Dewi Kartini dan  DinieAnggraeni Dewi

Peserta didik adalah anggota masyarakat, mereka berusaha mengembangkan potensinya melalui cara, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu dalam proses pembelajaran. Dalam hal ini Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dalam pasal 3 menyebutkan bahwa Pendidikan nasional berfungsi meningkatkan kemampuan penuh untuk mengembangkan dan membentuk karakter dan peradaban bangsa yang bermartabat dalam kerangka pembangunan kehidupan intelektual bangsa, hal ini bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi orang yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Untuk mengembangkan potensi peserta didik dan menjadikannya sebagai orang yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab, pendidikan Indonesia haruslah tidak terlepas dari ajaran Pancasila yang menjadi landasan pendidikan di Indonesia. Patut diperhatikan bahwa saat ini banyak pelajar dan anak muda yang rusak secara moral akibat berbagai faktor yang mempengaruhi mereka, antara lain dampak buruk globalisasi, teman, media elektronik yang semakin canggih, narkoba, alkohol, dan dampak negatif lainnya. Keadaan ini sangat memprihatinkan dan memerlukan perhatian khusus, karena mereka adalah generasi penerus bangsa dan mereka akan meneruskan perjuangan generasi tua untuk menegakkan negara Indonesia. Namun, sebelum mereka memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dalam pembangunan negeri ini, akhlak dan moral mereka sudah rusak. Tentu, jika negara ini dibangun oleh generasi yang tidak bermoral, tidak akan berkembang. Oleh karena itu, diperlukan pembenahan agar generasi penerus memiliki akhlak dan moral yang baik. Menurut Efendi, Y., & Sa’diyah, H. (2020). Dalam kehidupan bangsa di Indonesia, Pancasila berperan sebagai penyaring perkembangan teknologi.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia harus membekali Pancasila dengan perkembangan dalam kehidupan masyarakat Pancasila, oleh karena itu dalam pelaksanaan dan pengembangan etika perlu dikaji berbagai perkembangan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat luas.. Pancasila juga merupakan penyaring budaya luar yang merasuk ke dalam budaya bangsa Indonesia untuk mencegah penyalahgunaan nilai-nilai Pancasila, khususnya oleh lembaga pendidikan, yang mencerminkan contoh pembinaan moral siswa. Untuk kelangsungan hidup bangsa Indonesia di era globalisasi menuntut kita untuk bekerja keras menerapkan nilai-nilai Pancasila agar generasi penerus bangsa dapat terus menghayati dan mengamalkannya dan Nilai-nilai luhur tersebut selalu menjadi pedoman ideologi bangsa Indonesia. Pancasila memiliki nilai-nilai yang berkaitan erat dengan karakter, yang terlihat dari nilai-nilai Pancasila yang merupakan jati diri masyarakat Indonesia yang memiliki ciri khas dan kekhsanahan pribadi bangsa. Kepribadian bangsa dari niai-nilai luhur Pancasila bangsa Indonesia perlu dilestaikan dengan mewariskan karakter Pancasila kepada generasi muda sebagai pedoman hidup. Tempat untuk mewariskan karakter tersebut salah satunya adalah melalui dunia pendidikan. (Nurizka, R., & Rahim, A. 2020). 

Pendidikan Indonesia yang memiliki berbagai jenjang, yang salah satunya adalah pendidikan sekolah dasar, pendidikan sekolah dasar merupakan salah satu jenjang pendidikan yang harus menerapkan nilai nilai Pancasila dalam proses pembelajaran dan semua aspek lainnya. Dengan mengimplementasikan nilainilai Pancasila dari setiap sila dalam pendidikan sekolah dasar. Pengimplementasian Pancasila di Sekolah dasar merupakan jalur pendidikan pembelajaran (psycopedagogial development) sebab penguatan nilai-nilai Pancasila di sekolah adalah tidak terlepas dari kegiatan pembelajaran yang menyangkut tiga aspek, yakni kognitif, afektif dan psikomotor. (Triyanto, T., & Fadhilah, N. 2018). 

Dikutip dari: EduPysCouns Jurnal, Vol 3, No 1, Juni 2021, 

https://ummaspul.e-journal.id/edupsycouns/article/view/1304 

Pendidikan Karakter Disiplin di Sekolah Dasar



Penulis: Wuri Wuryandani, Bunyamin Maftuh, Sapriya, dan Dasim Budimansyah

Penguatan pendidikan karakter di era sekarang merupakan hal yang penting untuk dilakukan mengingat banyaknya peristiwa yang menunjukkan terjadinya krisis moral baik di kalangan anak-anak, remaja, maupun orang tua. Oleh karena itu, penguatan pendidikan karakter perlu dilaksanakan sedini mungkin dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah, dan meluas ke dalam lingkungan masyarakat. Salah satu nilai karakter yang perlu dikembangkan adalah disiplin. Nilai karakter disiplin sangat penting dimiliki oleh manusia agar kemudian muncul nilai-nilai karakter yang baik lainnya. Pentingnya penguatan nilai karakter disiplin didasarkan pada alasan bahwa sekarang banyak terjadi perilaku menyimpang yang bertentangan dengan norma kedisiplinan. Perilaku tidak disiplin yang lain contohnya adalah membuang sampah sembarangan, parkir tidak di tempat yang telah ditentukan, tidak mematuhi perizinan mendirikan bangunan, dan sebagainya. Adanya perilaku melanggar tersebut menunjukkan belum adanya kesadaran masyarakat untuk berperilaku disiplin terhadap aturan yang telah ditetapkan pemerintah. 

Perilaku tidak disiplin juga sering ditemui di lingkungan sekolah, termasuk sekolah dasar. Sebagai contoh perilaku tidak disiplin tersebut antara lain datang ke sekolah tidak tepat waktu, tidak memakai seragam yang lengkap sesuai dengan yang tercantum dalam tata tertib sekolah, duduk atau berjalan dengan seenaknya menginjak tanaman yang jelas-jelas sudah dipasang tulisan “dilarang menginjak tanaman”, membuang sampah sembarangan, mencorat coret dinding sekolah, membolos sekolah, mengumpulkan tugas tidak tepat waktu, tidak menggunakan seragam sesuai aturan, dan lain-lain. Terjadinya perilaku tidak disiplin di sekolah tersebut menunjukkan bahwa telah terjadi permasalahan serius dalam hal pendidikan karakter disiplin. 

Munculnya perilaku tidak disiplin menunjukkan bahwa pengetahuan yang terkait dengan karakter yang didapatkan siswa di sekolah tidak membawa dampak positif terhadap perubahan perilaku siswa sehari-hari. Pada dasarnya siswa tahu bahwa perilakunya tidak benar tetapi mereka tidak memiliki kemampuan untuk membiasakan diri menghindari perilaku yang salah tersebut. Hal ini merupakan dalam proses pendidikan karakter yang terjadi. Bisa jadi pendidikan karakter yang dilakukan selama ini baru pada tahap pengetahuan saja, belum sampai pada perasaan dan perilaku yang berkarakter. Proses pembelajaran lebih banyak mengajarkan siswa pengetahuan verbalistik yang kurang mempersiapkan siswa agar mampu menghadapi kehidupan sosial yang akan mereka temui. 

Hal ini senada dengan yang dituliskan Suparno (2012:8) bahwa pendidikan kita masih terlalu menekankan segi kognitif. Ini pun masih terbatas pada mencari angka, bukan kemampuan analisis kritis siswa terhadap peristiwa yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Pendapat serupa disampaikan pula oleh Sugirin (2010:267) bahwa tolok ukur keberhasilan pendidikan selalu mengacu pada prestasi siswa yang terkait dengan ranah kognitif dan psikomotorik. Suryadi (2012:96) menjelaskan bahwa penyebab utama terjadinya krisis moral dan karakter di kalangan peserta didik, lulusan, pendidik, bahkan pengelola pendidikan, adalah terjadinya dikotomisasi yaitu pemisahan secara tegas antara pendidikan intelektual di satu pihak dan pendidikan nilai di lain pihak. Padahal jika mendasarkan pada pendapat Bloom (1979: 7) ada tiga domain dalam pembelajaran yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Ketiga domain tersebut harus dikembangkan secara komprehensif dalam pembelajaran. 

Demikian pula dalam hal pendidikan karakter, untuk dapat membentuk karakter yang baik dalam diri peserta didik, maka sekolah hendaknya mengembangkan tiga aspek penting, yaitu moral knowing (pengetahuan moral), moral feeling (perasaan moral), dan moral action (perilaku moral) (Lickona, 1991:53). Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal perlu memberikan perhatian khusus terhadap pendidikan karakter, sesuai dengan pendapat Johanson dkk. (2011:109) bahwa sekolah merupakan lembaga yang telah lama dipandang sebagai lembaga untuk mempersiapkan siswa untuk hidup, baik secara akademis dan sebagai agen moral dalam masyarakat. Lickona (1991: 45-46) menjelaskan bahwa sekolah merupakan salah satu lembaga pendidikan yang mengemban tugas mengembangkan nilai karakter. 

Nilai-nilai karakter itu antara lain kejujuran, keterbukaan, toleransi, kebijaksanaan, disiplin diri, kemanfaatan, saling menolong dan kasih sayang, keberanian, dan nilai-nilai demokrasi. Dari sejumlah nilai karakter yang perlu ditanamkan tersebut, disiplin diri merupakan salah satu nilai karakter yang penting dikembangkan. Pendidikan di sekolah dasar merupakan jenjang pendidikan formal pertama yang akan menentukan arah pengembangan potensi peserta didik. Oleh karena itu, di sekolah dasar perlu mengembangkan karakter disiplin siswa secara optimal sehingga harapannya di tingkat selanjutnya siswa sudah memiliki bekal perilaku disiplin yang kuat. Mengingat demikian pentingnya pendidikan karakter disiplin di sekolah dasar, maka perlu dilakukan berbagai kebijakan.

Dikutip dari: Cakrawala Pendidikan Jurnal ilmiah pendidikan, Vol 33, No 2, Juni 2014,


https://journal.uny.ac.id/index.php/cp/article/view/2168

Wednesday, October 18, 2023

Penilaian Kinerja Kepala Sekolah (PKKS) SDN 012 Muhammad firdaus Samarinda

Penilaian Kinerja Kepala Sekolah (PKKS) SDN 012 Muhammad firdaus Samarinda



Penilaian Kinerja Kepala Sekolah (PKKS) SDN 012 Muhammad Firdaus Samarinda

Pendidikan adalah pilar utama pembentukan karakter dan intelektual bangsa. Di balik keberhasilan sebuah institusi pendidikan, ada seorang pemimpin yang dengan dedikasi memastikan visi dan misi sekolah dapat diwujudkan demi kualitas pendidikan yang lebih baik. Di SDN 012 Muhammad Firdaus Samarinda, Kepala Sekolah memegang peranan penting dalam menciptakan atmosfer belajar yang kondusif dan inovatif.

Untuk memastikan kualitas kepemimpinan yang berkelanjutan, Penilaian Kinerja Kepala Sekolah (PKKS) dilaksanakan secara rutin. PKKS bukan hanya sekedar penilaian formalitas, melainkan sebuah instrumen untuk memetakan kekuatan, peluang, serta area yang perlu ditingkatkan dalam kinerja kepala sekolah.

1.Tujuan PKKS:

  • Mengidentifikasi keefektifan dan efisiensi strategi kepemimpinan yang diterapkan oleh Kepala Sekolah.
  • Memberikan umpan balik yang konstruktif untuk perbaikan dan pengembangan kinerja Kepala Sekolah di masa mendatang.
  • Mendorong Kepala Sekolah untuk terus meningkatkan kompetensi dan kualitas kepemimpinan mereka.
  • Menjadi dasar dalam pengambilan keputusan terkait dengan pengembangan karier dan pelatihan bagi Kepala Sekolah.

2. Metode Penilaian:

  • Wawancara dengan staf pengajar dan tenaga kependidikan.
  • Kuesioner yang diisi oleh guru, siswa, serta komite sekolah.
  • Observasi langsung terhadap aktivitas dan interaksi Kepala Sekolah di lingkungan sekolah.
  • Studi dokumen, meliputi: Rencana Kerja Tahunan, Laporan Tahunan, serta dokumen-dokumen pendukung lainnya.
3. Hasil dan Temuan PKKS:

Tanpa mengabaikan kerahasiaan informasi, hasil dari PKKS ini menunjukkan bahwa Kepala Sekolah SDN 012 Muhammad Firdaus Samarinda memiliki dedikasi tinggi dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Beberapa poin kekuatan dan area yang perlu ditingkatkan akan dibahas lebih lanjut dalam rapat internal sekolah untuk memastikan langkah-langkah perbaikan yang efektif.

Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi dalam proses PKKS ini. Semoga dengan adanya evaluasi ini, SDN 012 Muhammad Firdaus Samarinda dapat terus meningkatkan kualitas pendidikan dan membentuk generasi yang cerdas, berakhlak mulia, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Salam Pendidikan,


[Tim PKKS SDN 012 Muhammad Firdaus Samarinda]

Penglepasan Peserta Didik Kelas VI SD 012 Muhammad Firdaus SamarindaTahun Pelajaran 2022/2023

Penglepasan Peserta Didik Kelas VI SD 012 Muhammad Firdaus SamarindaTahun Pelajaran 2022/2023


Waktu terasa begitu cepat berlalu. Rasanya baru kemarin kita melihat para siswa Kelas VI memasuki gerbang SDN 012 Muhammad Firdaus Samarinda dengan wajah polos dan penuh semangat. Dan kini, setelah menempuh perjalanan pendidikan selama enam tahun, mereka siap untuk melangkah ke jenjang yang lebih tinggi, meninggalkan bangku sekolah dasar yang telah memberi begitu banyak kenangan.

Pada hari ini, dengan penuh haru dan bangga, SDN 012 Muhammad Firdaus Samarinda menggelar acara penglepasan untuk peserta didik kelas VI. Acara ini merupakan puncak dari rangkaian kegiatan yang telah diselenggarakan sebagai bentuk apresiasi terhadap kerja keras, dedikasi, serta pencapaian para siswa selama menempuh pendidikan di sekolah ini.

Dimulai dengan sambutan hangat dari Kepala Sekolah, Bapak/Ibu [Nama Kepala Sekolah], yang menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh guru, orang tua, dan tentunya para siswa yang telah bersama-sama mengukir prestasi dan menciptakan kenangan indah selama enam tahun terakhir. Beliau juga menekankan pentingnya terus belajar dan beradaptasi di jenjang pendidikan selanjutnya.

Salah satu momen yang paling emosional adalah ketika perwakilan dari siswa kelas VI, [Nama Siswa/Siswi], menyampaikan kesannya selama belajar di SDN 012. Dengan suara yang bergetar, ia berterima kasih kepada para guru yang telah memberikan ilmu, kasih sayang, serta dukungan yang tak terbatas. Ia juga menyampaikan harapannya agar silaturahmi yang telah terjalin selama ini tetap terpelihara meski mereka nanti telah bersekolah di tempat yang berbeda.

Acara penglepasan ini juga dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan dari siswa kelas lain sebagai bentuk ungkapan rasa sayang dan dukungan mereka kepada para senior. Ada tari, nyanyian, hingga pertunjukan drama mini yang menggambarkan kebersamaan mereka selama ini.

Sebagai penutup, dilakukan prosesi penyerahan sertifikat kelulusan dan penghargaan kepada siswa-siswi yang berprestasi. Semua siswa berdiri tegap, menerima piagam dengan wajah sumringah, siap untuk menerjang dunia dengan segala pengetahuan dan keterampilan yang telah mereka peroleh.

Tak lupa, sesi foto bersama pun tak ketinggalan. Wajah-wajah ceria, pelukan erat, dan air mata kebahagiaan mengisi setiap frame yang diabadikan.

Semoga para alumni kelas VI SDN 012 Muhammad Firdaus Samarinda ini dapat melanjutkan pendidikan mereka dengan sukses di jenjang yang lebih tinggi. Dan semoga pengalaman serta nilai-nilai yang telah ditanamkan selama di SDN 012 menjadi bekal yang kuat untuk mereka dalam menghadapi tantangan yang akan datang.

Selamat melanjutkan perjalanan, para pejuang muda! Dunia menantimu!